Site icon Pendidikan Agama Islam

Awetkan Keunikan Daerah Melalui Tulisan, Mahasiswa PAI Unugiri Bedah Buku Antologi Kearifan Lokal

pai.unugiri.ac.id, BOJONEGORO – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Unugiri menggelar acara Bedah Buku Antologi Local Wisdom & Guest Lecture pada Rabu (13/05/26) di Auditorium Hasyim Asy’ari Lt. 3 Gedung Rektorat.

Kegiatan ini merupakan apresiasi terhadap karya tulis mahasiswa yang kini semester 8, di mana di semester lalu (genap-red), berhasil menyusun lima buku kearifan lokal (local wisdom) sebagai luaran mata kuliah Jurnalistik.

Ketua panitia, Elistina dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada mahasiswa yang tetap bersemangat hadir di tengah kesibukan menyusun skripsi. Ia menjelaskan, bahwa buku-buku ini bukan sekadar tugas teori, melainkan hasil praktik nyata mahasiswa dalam melakukan riset sejarah dan budaya di berbagai pelosok desanya masing-masing untuk diabadikan menjadi sebuah karya tulis.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Prodi PAI Su’udin Aziz, turut memberi apresiasi tinggi. Beliau menekankan pentingnya menulis sebagai upaya untuk memperpanjang usia. Sebab, melalui pemikiran seseorang yang ditulis, ia akan tetap hidup meski penulisnya telah tiada.

“Sebagaimana para ulama besar yang karyanya tetap hidup, meskipun mereka telah wafat ratusan tahun lalu, ketika hidup menulis, dan ketika mati jadi yang tertulis,” pesannya.

Kemampuan Memahami

Di sesi guest lecture, Titis Anganten Wiyanti selaku Kabid Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro, menyampaikan bahwa literasi bukan sekadar membaca, melainkan kemampuan memahami dan mengkritisi informasi untuk pemberdayaan ekonomi dan pelestarian identitas daerah.

“Karena dengan menulis, sejarah itu tidak akan hilang. Identitas suatu daerah juga menjadi lebih nyata. Kemudian bisa menjadi kebanggaan, bisa menjadi inspirasi” ujarnya.

Melengkapi hal itu, Nanang Fahrudin, penulis buku Bodjonegoro Tempo Doeloe berbagi pengalaman dan pandangannya mengenai tantangan menulis di era digital. Beliau mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengandalkan media sosial, tetapi juga mendokumentasikan pengetahuan lokal agar tidak hilang ditelan zaman, menurutnya apa yang dilakukan teman teman ini adalah mengarsip budaya lokal.

“Menulis ibarat memasak, jika lama tidak dilakukan, kita akan lupa bagaimana cara merasa,” tuturnya.

BACA JUGA: Gigih Berlatih Mandiri, Mahasiswa PAI Juara III Taekwondo Jatim

Kebanggaan mendalam dirasakan para mahasiswa, salah satunya Felix Aditya Hariyanto (8D) yang terharu melihat karyanya dibukukan. Ia pun berpesan agar mahasiswa lain tak ragu mulai menulis karena setiap tulisan memiliki kemanfaatan tersendiri.

“Sangat bangga karena tulisan kami tidak berhenti sebagai tugas kuliah saja, tapi bisa diapresiasi orang banyak,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Alisa Qodrunnada M (8A) mengajak rekan-rekannya untuk melihat menulis melampaui sekadar mengejar nilai di Kartu Hasil Studi (KHS). Melainkan konsistensi untuk terus berkarya.

“Apa yang kita tulis hari ini, kelak akan menjadi warisan pengetahuan yang dibaca orang lain,” tutur Alisa dengan wajah ceria.

Selain pemateri menyampaikan penguatan perihal apa yang telah dilahirkan mahasiswa, perwakilan mahasiswa kelas sebelumnya juga tidak lupa mempresentasikan buku karya masing-masing. Kelas A, buku berjudul Aku Abadikan Budayaku dibawakan oleh Maulidatuz Zakia, kelas B Menjaga Warisan Leluhur oleh Muhammad Nasirul Umam, kelas C Semua Tentang Daerahku oleh Anti Nabila, kelas D Menyulam Kearifan Lokal oleh Andrian Hapy Ikmalul Muklasin, dan kelas E Bumi dalam Dekapan Budaya dibawakan oleh Shofi Fitriani.

Reporter: Dwi Kartika Putri
Layout Foto: M. Chanif C
Editor: Putri DY

Exit mobile version